Ini adalah Photo-photo koleksi dari Tropenmuseum http://www.tropenmuseum.nl tentang Central Sumatra Expedition/Ekpedisi Sumatra Tengah yang menjelajahi bagian tengah pulau Sumatra yang dimulai dari Minangkabau, Jambi dan sampai ke Sumatra Selatan pada kurun waktu tahun 1877-1879.

Tim ini dipimpin oleh HL. van Hasselt, seorang Peneliti Belanda yang digagas oleh dan disupervisori oleh Pieter Johannes Veth, seorang sarjana Belanda terkemuka tentang Hindia Belanda, yang sampai akhir hayatnya tidak pernah menginjakkan kakinya di bumi Indonesia.

Tim ekspedisi tersebut telah menulis beberapa buku beserta gambar/photo mengenai geografi, kebudayaan, dan bahasa/aksara penduduk pedalaman pulau Sumatra tersebut, penelitiannya itu banyak menyingkap tabir gelap geografi, masyarakat, dan kebudayaan pedalaman pulau Sumatra yang pada waktu itu belum banyak diketahui orang Eropa.
(lagi…)

Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu (selanjutnya KASSP) sedang hangat dibicarakan oleh para pakar sejarah dan budaya sekarang, karena KASSP banyak memiliki peninggalan yang unik. Pertama, sampai sekarang banyak terdapat rumah gadang (adat), sehingga dijuluki sebagai nagari seribu rumah gadang. Kedua, budaya yang dipakai di KASSP tidak sama dengan daerah luhak (darek) dan tidak sama pula dengan rantau, sehingga dikenal dengan ikua darek kapalo rantau. Ketiga secara historis wilayah ini ini juga dilukiskan memiliki sejarah kerajaan tua Minangkabau.

Beberapa peninggalan sejarah hingga kini masih dapat ditelusuri dan menarik untuk terus diteliti lebih jauh, seperti terdapatnya Istana Puti Sigintir, Istana Tuangku Rajo Malenggang dan Rajo Putiah di Pasir Talang dan Istana Tuanku Rajo Bagindo di Balun, Peninggalan sejarah semasa awal masuk Islam di Minangkabau seperti Mesjid Kurang Aso 60 di Pasir Talang dan Mesjid Raya serta surau Menara di Koto Baru. Dengan keunikan-keunikan tersebut KASSP sekarang akan dijadikan warisan budaya dunia.
(lagi…)

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan proses berdiri dan berkembangnya suatu pemerintahan kerajaan. Artinya, merekonstruksi kembali peristiwa berdirinya suatu kerajaan dengan segala permasalahan yang ada di dalamnya. Walaupun dengan data dan sumber yang minim dan kejadiannya telah lampau sekali akan tetapi karena tujuannya menceritakan kembali maka yang utama dilakukan adalah menganalisa data dari beberapa sumber yang ada. Persoalan-persoalan yang terkandung dalam peristiwa tersebut mengacu kepada hal-hal yang berkaitan dengan sebab-musabab dan faktor kondisional yang ada dan berkembang atau apa yang mendasari hal itu terjadi.
(lagi…)

dari CERITA, TUTUR, TAMBO di Masyarakat Alam Pauah Duo Nan Batigo

Oleh : Ir. Gamal Yusaf, Sutan Batuah.

PENDAHULUAN

Semenjak tahun 2003, tepatnya setelah Lokakarya Adat dan Budaya Minangkabau di Aula Timur ITB Bandung (23-24 Agustus 2003) yang dilaksanakan oleh PKM Jawa Barat – Bandung dan GEBU MINANG, kami dari Yayasan Tuah Nagari dan IKASUPA Jakarta dan Sekitarnya Ikut serta dalam acara tersebut, kami merasa terpanggil untuk mengenal lebih dalam tentang Adat Budaya Alam Surambi Sungai Pagu, yang dalam lokakarya tersebut Alam Surambi Sungai Pagu tidak dikenal oleh peserta lokakarya yang berasal dari seluruh daerah perwakilan yang ada di Sumatera Barat dan Perantau di Jakarta dan Bandung, lebih miris lagi, salah seorang pemakalah yang berasal dari Perguruan Tinggi Negeri UNAND Padang, seorang ahli Antropogi, yaitu kanda DR. Nursirwan Effendi, MM. (Kepala BKSNT* – Padang) juga tidak mengenal sama sekali, dimana, dan apa itu Alam Surambi Sungai Pagu.
(lagi…)

Ir.Hasmurdi Hasan

Dalam berkomunikasi masyarakat Sungai Pagu menggunakan bahasa Minangkabau dengan dialek khas yang merupakan identitas tersendiri dalam komonitas Minangkabau.
Kekhasan ini merupakan jati diri dan kebanggaan yang perlu dilestarikan dan diketahui oleh masyarakat perantau yang berasal dari Sungai Pagu, khususnya yang lahir dan besar di perantauan. Berikut akan disampaikan pengetahuan dasar tentang kaedah tata bahasa Minangkabau-khas Sungai Pagu.

Hal yang sangat mendasar dalam tata bahasa Minangkabau khas Sungai Pagu adalah huruf “H” tidak lazim digunakan, semua kata yang berasal dari bahasa Indonesia yang menggunakan hurup “H“ tidak dibunyikan. Sedangkan huruf “R“ berubah bunyi menjadi “Gh” (Ghain… berasal dari huruf Arab), dan khusus di Nagari Koto Baru menjadi ”Au” (Wau… berasal dari huruf Arab).
(lagi…)

Oleh : Ir. Hasmurdi Hasan

Beberapa tahun belakangan ini ramai dibicarakan orang tentang rencana akan menghidupkan kembali jalan yang menghubungkan Sungai Pagu dengan Kambang, jalan yg mempunyai nilai historis bagi kedua daerah yg terhubung, namun sampai saat ini masih banyak kendala yang dihadapi untuk mewujudkannya. Pada kesempatan ini penulis akan mencoba menelusuri latar belakang sejarah dan menggambarkan suasana kondisi alam sepanjang route jalan tersebut, Kebetulan rumah gadang tempat tinggal penulis berada di route awal dan dijadikan tempat persinggahan bagi orang Pesisir setiba di Sungai Pagu, lokasi tepatnya di Mudiak Lawe.
(lagi…)

Oleh : Ir. Gamal Yusaf, St. Batuah

Nan cadiak diawak, nan kayo diawak, nan santiang diawak, tapi pado kanyataannyo awak kironyo bamimpi indah maso lalu, awak kini ba Angku Palo ka Nagari Urang, Ba Angku Lareh ka Urang Pandatang, dima kain kabaju, takanak mangko diungkai bari batali kabalakang dima nagari kamaju dahan jo rantiang nan dipakai adat usali nan dibuang.

Pada zaman antah barantah di Alam Surambi Sungai Pagu disebut Kualo Banda Lakun terkenal manusia yang dalam curito rang tuo di Alam Surambi Sungai Pagu disebut dengan nama Sitatok, Sitaraan, Sianja, Sipilian digambarkan kepada kita masa kecil bagaikan Raksasa yang sangat kuat dan seram, yang sangat menakutkan, mereka disebut juga sebagai Inyiak Garagasi. Sehingga kalau Anduang bercerita tentang Inyiak Garagasi tidak ada yang berani berkutik dan diam ditempat.
(lagi…)

FALSAFAH YANG TERKANDUNG pada ARSITEKTUR MASJID KURANG ASO 60 di Alam Surambi Sungai Pagu
Oleh : Ir. Hasmurdi Hasan

Jika ingin mengetahui sejarah perkembangan Islam di Alam Surambi Sungai Pagu, salah satunya adalah dengan melihat bangunan Masjid Kurang Aso Anam Puluah. Dari bangunan Masjid tersebut kita dapat mengetahui budaya masyarakatnya, dari bentuk Arsitekturnya kita dapat mengetahui kurun waktu pembuatannya dan dari proses pembangunannya kita dapat mengetahui sejarah perkembangan Islam di Alam Surambi Sungai Pagu.

Dalam kancah kebudayaan di jagat raya ini, budaya Minangkabau kebetulan tergolong ke dalam kelompok budaya majemuk yang lebih banyak menerima dari pada memberi. Berbeda dengan kelompok budaya tunggal, seperti yang dianut di Cina, India dan Arab, yang sebaliknya, yakni lebih banyak memberi dari pada menerima, atau sekurang-kurangnya memberi dan menerima. Perilaku budaya majemuk ini telah kita warisi dari nenek moyang kita sejak dahulu, tak terkecuali penduduk Alam Surambi Sungai Pagu. Hal ini dapat kita buktikan melalui bangunan Masjid Kurang Aso 60 yang memiliki model campuran Arsitektur Hindu-Jawa ( atap Joglo ), Klenteng Cina ( lengkung jurai atap ) dan dipadu dengan Arsitektur tradisional Minangkabau ( Atap, Miqrob dan susunan tonggak ).
(lagi…)

PENDAHULUAN

Alam Surambi Sungai Pagu, mengambil tempat yang istimewa dalam Adat Minangkabau dengan julukan Serambi Alam Minangkabau, dalam ungkapan adat disebut juga “Ikua lareh kapalo rantau, kapak randai luhak nan tigo, wilayah ini tidak termasuk kedalam Luhak nan Tigo, bukan juga wilayah Rantau, dan tidak pula dibawah Pagaruyuang, tetapi dalam ungkapan adat disebut “masih dalam kain saruang nan sahalai” dengan Alam Minangkabau, tantangan adat nan baisi limbago nan batuang, yaitu samo baadat Minangkabau, nan basuku bakeh ibu, babangso bakeh bapak, sako turun temurun, pusako jawek bajawek, sangsoko pakai mamakai.
(lagi…)

Oleh : GAMAL YUSAF, St. Batuah

Pada masa lalu, di daerah Solok Selatan terdapat sebuah Kerajaan penting. Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu namanya. Hingga saat ini masih banyak peninggalan-peninggalan bersejarah yang masih terpelihara dengan baik, bahkan salah satu dari peninggalan tersebut ada sebuah Mesjid Tua diperkirakan didirikan sekitar 400 tahun yang lalu (± 4 abad), masih berdiri dengan kokoh sampai saat ini di Pasir Talang Kecamatan Sungai Pagu Kabupaten Solok Selatan Sumatera Barat. Bahkan Dinas Purbakala telah memasukan kedalam Lindungan Cagar Budaya Indonesia.
(lagi…)

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.