(lebih…)

Menurut Tambo Alam Sungai Pagu, yang dimaksud dengan negeri Alam Surambi Sungai Pagu adalah Dua Rantau-nya. Pertama, Rantau Si Kija Batang Gumanti Sungai Abu Batang Hari, merupakan cancang latieh Niniek Nan Kurang Aso Anam Puluah (59). Kedua, Banda Nan Sapuluah cancang latieh niniek nan kurang aso anam puluah, turun dari Sungai Pagu terus jalan dari Kambang,  wilayah ninik nan kurang aso anam puluah, kalang hulunya Salido, tumpuannyo Air Haji. Maksudnya batasnya dari Salido sebelah utara dan sampai Air Haji yang berbatasan dengan Indrapura di Selatan.

 

Secara Adat daerah ini merupakan cancang latieh ninik nan kurang aso anam puluah, dimana penduduknya adalah anak kemenakan sapieh balahan : jajak nan tatukiek, unjut nan tabantang,  sarawan tali pukek,  jauah ka tangah manjadi wilayah ninik nan kurang aso anam puluah. Dipakai gelar pusako di Sungai Pagu oleh segala sapieh balahan di Bandar Nan Sapuluah itu. Dengan demikian apabila hendak mengetahui siapa sapieh balahannya, sepanjang adat maka ketahui sajalah gelar pusako adat yang dipakainya.

(lebih…)

Ini adalah Photo-photo koleksi dari Tropenmuseum http://www.tropenmuseum.nl tentang Central Sumatra Expedition/Ekpedisi Sumatra Tengah yang menjelajahi bagian tengah pulau Sumatra yang dimulai dari Minangkabau, Jambi dan sampai ke Sumatra Selatan pada kurun waktu tahun 1877-1879.

Tim ini dipimpin oleh HL. van Hasselt, seorang Peneliti Belanda yang digagas oleh dan disupervisori oleh Pieter Johannes Veth, seorang sarjana Belanda terkemuka tentang Hindia Belanda, yang sampai akhir hayatnya tidak pernah menginjakkan kakinya di bumi Indonesia.

Tim ekspedisi tersebut telah menulis beberapa buku beserta gambar/photo mengenai geografi, kebudayaan, dan bahasa/aksara penduduk pedalaman pulau Sumatra tersebut, penelitiannya itu banyak menyingkap tabir gelap geografi, masyarakat, dan kebudayaan pedalaman pulau Sumatra yang pada waktu itu belum banyak diketahui orang Eropa.
(lebih…)

Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu (selanjutnya KASSP) sedang hangat dibicarakan oleh para pakar sejarah dan budaya sekarang, karena KASSP banyak memiliki peninggalan yang unik. Pertama, sampai sekarang banyak terdapat rumah gadang (adat), sehingga dijuluki sebagai nagari seribu rumah gadang. Kedua, budaya yang dipakai di KASSP tidak sama dengan daerah luhak (darek) dan tidak sama pula dengan rantau, sehingga dikenal dengan ikua darek kapalo rantau. Ketiga secara historis wilayah ini ini juga dilukiskan memiliki sejarah kerajaan tua Minangkabau.

Beberapa peninggalan sejarah hingga kini masih dapat ditelusuri dan menarik untuk terus diteliti lebih jauh, seperti terdapatnya Istana Puti Sigintir, Istana Tuangku Rajo Malenggang dan Rajo Putiah di Pasir Talang dan Istana Tuanku Rajo Bagindo di Balun, Peninggalan sejarah semasa awal masuk Islam di Minangkabau seperti Mesjid Kurang Aso 60 di Pasir Talang dan Mesjid Raya serta surau Menara di Koto Baru. Dengan keunikan-keunikan tersebut KASSP sekarang akan dijadikan warisan budaya dunia.
(lebih…)

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan proses berdiri dan berkembangnya suatu pemerintahan kerajaan. Artinya, merekonstruksi kembali peristiwa berdirinya suatu kerajaan dengan segala permasalahan yang ada di dalamnya. Walaupun dengan data dan sumber yang minim dan kejadiannya telah lampau sekali akan tetapi karena tujuannya menceritakan kembali maka yang utama dilakukan adalah menganalisa data dari beberapa sumber yang ada. Persoalan-persoalan yang terkandung dalam peristiwa tersebut mengacu kepada hal-hal yang berkaitan dengan sebab-musabab dan faktor kondisional yang ada dan berkembang atau apa yang mendasari hal itu terjadi.
(lebih…)

dari CERITA, TUTUR, TAMBO di Masyarakat Alam Pauah Duo Nan Batigo

Oleh : Ir. Gamal Yusaf, Sutan Batuah.

PENDAHULUAN

Semenjak tahun 2003, tepatnya setelah Lokakarya Adat dan Budaya Minangkabau di Aula Timur ITB Bandung (23-24 Agustus 2003) yang dilaksanakan oleh PKM Jawa Barat – Bandung dan GEBU MINANG, kami dari Yayasan Tuah Nagari dan IKASUPA Jakarta dan Sekitarnya Ikut serta dalam acara tersebut, kami merasa terpanggil untuk mengenal lebih dalam tentang Adat Budaya Alam Surambi Sungai Pagu, yang dalam lokakarya tersebut Alam Surambi Sungai Pagu tidak dikenal oleh peserta lokakarya yang berasal dari seluruh daerah perwakilan yang ada di Sumatera Barat dan Perantau di Jakarta dan Bandung, lebih miris lagi, salah seorang pemakalah yang berasal dari Perguruan Tinggi Negeri UNAND Padang, seorang ahli Antropogi, yaitu kanda DR. Nursirwan Effendi, MM. (Kepala BKSNT* – Padang) juga tidak mengenal sama sekali, dimana, dan apa itu Alam Surambi Sungai Pagu.
(lebih…)

Ir.Hasmurdi Hasan

Dalam berkomunikasi masyarakat Sungai Pagu menggunakan bahasa Minangkabau dengan dialek khas yang merupakan identitas tersendiri dalam komonitas Minangkabau.
Kekhasan ini merupakan jati diri dan kebanggaan yang perlu dilestarikan dan diketahui oleh masyarakat perantau yang berasal dari Sungai Pagu, khususnya yang lahir dan besar di perantauan. Berikut akan disampaikan pengetahuan dasar tentang kaedah tata bahasa Minangkabau-khas Sungai Pagu.

Hal yang sangat mendasar dalam tata bahasa Minangkabau khas Sungai Pagu adalah huruf “H” tidak lazim digunakan, semua kata yang berasal dari bahasa Indonesia yang menggunakan hurup “H“ tidak dibunyikan. Sedangkan huruf “R“ berubah bunyi menjadi “Gh” (Ghain… berasal dari huruf Arab), dan khusus di Nagari Koto Baru menjadi ”Au” (Wau… berasal dari huruf Arab).
(lebih…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.